SAYA TIDAK TAU APA-APA” – KEPSEK SMP NEGRI 1 SUOH AKUI SERAHKAN SEMUA DANA REVITALISASI RP 3 MILYAR KE PIHAK KETIGA, DIDUGA BERBALUT KONEKSI KEKUASAAN

Lampung Barat – Sigerlink.com, Viral kasus dana bantuan sekolah yang mencapai angka fantastis memecah keheningan Kabupaten Lampung Barat, dengan kepala sekolah yang terbuka mengaku tidak mengerti urusan pembangunan namun merasa tidak terkendali karena dekat dengan “orang nomor satu”.

Pada hari Senin (20/01/2026), suara yang keluar dari mulut Mat Pahrudin, Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Suoh, seperti petir yang menyambar tengah hari. Di depan awak media, pria yang menjabat sebagai pemimpin sekolah itu dengan ekspresi yang tidak sedikitpun menunjukkan rasa khawatir, mengakui secara terang-terangan “Saya dan seluruh anggota komite sekolah tidak mengerti dalam hal bangunan.”

Akibat ketidaktahuan itu, kata Mat Pahrudin, pihaknya menunjuk seorang penasehat hukum dengan inisial IR dan ZP sebagai pelaksana kegiatan pembangunan secara penuh.

“Semua urusan tanya kan langsung ke pelaksana IR dan ZP, tidak ada yang melalui saya lagi,” tegasnya dengan nada yang justru terkesan percaya diri.

Yang lebih mengagetkan, nilai dana bantuan revitalisasi sekolah yang diserahkan begitu saja kepada pihak ketiga itu mencapai Rp 3 Milyar.

Setiap kali dana dicairkan, kata Mat Pahrudin, ia langsung menyerahkan seluruhnya tanpa melakukan pemeriksaan atau pengawasan apapun.

“Saya tidak mengerti pembangunan dan uangnya, jadi saya serahkan saja semua. Susah juga saya lapor ke Bupati karena sungguh tidak tahu-tahu masalah duit pembangunan saya cuma kepala sekolah yang tidak mengerti apa-apa,” ucapnya sambil mengangkat bahu.

Berita ini pertama kali beredar melalui media lokal Sigerlink.com dan langsung menjadi sorotan publik. Sumber yang tidak mau disebutkan nama mengungkapkan, rasa percaya diri yang terpancar dari Mat Pahrudin kemungkinan besar berasal dari koneksinya yang dekat dengan orang nomor satu di Kabupaten Lampung Barat. “Seolah-olah Inspektorat, Polres, dan Kejari Kab Lampung Barat tidak punya nyali untuk menggerakkan jari sedikitpun terhadap Mat Pahrudin dan kelompoknya,” ujar sumber tersebut dengan nada penuh keprihatinan.

Dugaan koneksi kekuasaan yang kuat membuat aparat penegak hukum di tingkat kabupaten dianggap sudah “kebiri” dan tidak mampu mengambil tindakan tegas. Namun, perlawanan segera datang dari kalangan masyarakat.

Hardolin, salah satu aktivis yang dikenal gigih dalam mengawal kebenaran di Kabupaten Lampung Barat, mengumumkan bahwa ia akan membawa kasus ini ke tingkat yang lebih tinggi.

“Kita tidak akan tinggal diam melihat dana rakyat yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki fasilitas pendidikan anak-anak kita diserahkan begitu saja tanpa pengawasan,” tegas Hardolin dengan wajah penuh tekad.

Ia akan mengajukan laporan resmi ke Polda Lampung dan Kejati Provinsi Lampung, dengan harapan bahwa lembaga hukum tingkat provinsi tidak akan mengikuti jejak aparat kabupaten yang dianggap sudah terbebani oleh kekuasaan.

Di tengah kericuhan ini, satu pertanyaan besar mengemuka di tengah masyarakat Siapa sebenarnya sosok yang berada di belakang Mat Pahrudin?.

Hardolin dengan senyum tipis yang penuh makna menyebutkan nama Bupati sebagai salah satu kemungkinan yang menjadi sandaran kuat bagi kepala sekolah tersebut.

Apakah Polda Lampung dan Kejati Provinsi Lampung akan mengambil tindakan tegas sesuai dengan peraturan yang berlaku, ataukah kasus ini akan terbenam dalam kebisingan seperti kasus serupa di masa lalu? Masyarakat menunggu dengan napas tertekan.(Yus)

Tinggalkan Balasan